Pastipas.id, Bekasi - Aroma dupa dan merah lampion yang menghiasi Kelenteng Hok Lay Kiong semakin berarti menjelang Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh pada Selasa (17/02/26). Di balik dinding tua kelenteng yang telah berdiri selama tiga abad, sejarah baru terukir dengan lahirnya organisasi kepemudaan bernama Pemuda Hok Lay Kiong Bekasi.
Pelantikan yang digelar pada Jumat (13/02/26) lalu bukan sekadar seremonial. Momen ini menandai peralihan tongkat estafet penjagaan nilai-nilai leluhur kepada generasi milenial dan Gen-Z, di tengah arus modernisasi Kota Bekasi.
Anggota DPRD Jawa Barat dari Partai Demokrat, Ronny Hermawan, yang juga Ketua Yayasan Pancaran Tridharma Bekasi Ronny Hermawan yang menghadiri acara pelantikan tersebut, menegaskan bahwa Hok Lay Kiong bukan sekadar bangunan mati.
"Kelenteng ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol sejarah, budaya, dan perjalanan panjang kebersamaan masyarakat Tionghoa dengan masyarakat Bekasi secara luas," ujarnya dalam keterangan pada Minggu (15/02/26).
Menurut Ronny, kehadiran organisasi pemuda ini krusial sebagai benteng pelestarian budaya. Anak muda kini menjadi ujung tombak dalam merawat nilai kebajikan dan gotong royong yang diwariskan lintas generasi di kelenteng tertua di Bekasi itu.
"Ini bukan sekadar pembentukan organisasi, melainkan tonggak estafet kepemimpinan. Pemuda adalah energi, harapan, dan masa depan kelenteng serta kebersamaan kita," tegasnya.
Ronny juga mengajak Pemuda Hok Lay Kiong untuk tidak menjadi organisasi eksklusif. Di tengah heterogenitas masyarakat Bekasi, mereka diharapkan menjadi jembatan perdamaian dan persatuan. "Tunjukkan bahwa kalian adalah generasi yang religius, berbudaya, nasionalis, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat," pesannya.
Di akhir sambutannya, politisi tersebut mengingatkan agar organisasi baru ini dikelola dengan manajemen modern yang mengedepankan musyawarah dan semangat kebersamaan, bukan kepentingan individu atau segelintir orang.
Kini, dengan semangat Tahun Baru Imlek 2577, Pemuda Hok Lay Kiong memikul tanggung jawab besar untuk memastikan nyala toleransi di kelenteng berusia tiga abad itu tetap menyala terang.(red)
