Pastipas.id, -Bojonegoro- Ancaman cuaca ekstrem di Kabupaten Bojonegoro, memantik perhatian serius Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur (Jatim). Legislatif tingkat provinsi ini mengingatkan dampak kondisi itu berpotensi mengganggu sektor strategis, mulai dari migas hingga pertaninan.
Wakil Ketua IV DPRD Jatim, Sri Wahyuni menegaskan, bahwa Bojonegoro memiliki posisi penting sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas) sekaligus salah satu lumbung padi di Jatim. Karena itu, perubahan cuaca yang tidak menentu dinilai bisa berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi daerah.
“Bojonegoro ini lumbung energi dan pangan. Kalau terjadi cuaca ekstrem, dampaknya bisa ke produksi pertanian hingga aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Sri Wahyuni kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (11/4/2026).
Politisi perempuan dari Partai Demokrat ini menjelaskan, curah hujan tinggi berpotensi memicu banjir yang mengganggu siklus tanam, sementara musim kemarau ekstrem dapat menyebabkan kekeringan. Tidak hanya itu, infrastruktur penunjang sektor energi juga dinilai rentan terdampak kondisi cuaca yang tidak stabil.
Untuk itu, Sri Wahyuni mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro meningkatkan langkah mitigasi secara terintegrasi. Upaya tersebut meliputi penguatan sistem peringatan dini, normalisasi sungai, serta perbaikan jaringan irigasi.
“Langkah antisipatif harus diperkuat, jangan sampai kita hanya reaktif setelah bencana terjadi,” ujarnya.
Selain infrastruktur, adik kandung legislator Sukur Priyanto ini juga menekankan pentingnya pendampingan kepada petani agar mampu beradaptasi dengan perubahan iklim, termasuk penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
”Dengan langkah mitigasi yang tepat, Bojonegoro diharapkan tetap mampu mempertahankan perannya sebagai daerah strategis penopang energi dan pangan di Jawa Timur, meski di tengah ancaman perubahan iklim yang kian meningkat,” tegasnya.
Terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro mulai menyiapkan langkah mitigasi menghadapi musim kemarau tahun 2026. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi kekeringan yang diperkirakan mulai terjadi dalam waktu dekat.
Berdasarkan prakiraan, musim kemarau diprediksi mulai masuk pada dasarian ketiga April 2026 dan akan berlangsung secara bertahap di wilayah Bojonegoro.
Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi menyampaikan, bahwa sejumlah langkah telah disiapkan, mulai dari pemetaan daerah rawan kekeringan hingga penyediaan bantuan air bersih bagi masyarakat terdampak.
“Mitigasi kami lakukan sejak dini, termasuk koordinasi lintas sektor agar penanganan lebih cepat dan tepat sasaran,” tutur mantan Camat Padangan ini.
Selain itu, BPBD juga mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, terutama di wilayah yang selama ini kerap mengalami krisis air saat musim kemarau
