Sleman, Pastipas.id – Aktivitas penumpang bus antarprovinsi di Terminal Jombor, Mlati, Sleman, mulai mengalami peningkatan menjelang Lebaran 2026.
Lonjakan penumpang terutama terlihat pada rute tujuan Sumatera yang menjadi salah satu jalur favorit pemudik dari Yogyakarta.
Ketua Paguyuban Pabima Terminal Jombor, Ambaryanti, mengatakan puncak arus mudik diperkirakan terjadi sekitar tanggal 18 Maret 2026. Namun, kondisi arus penumpang masih dipengaruhi ketidakpastian penetapan hari Lebaran.
“Mulainya sekitar tanggal 13, kemungkinan puncaknya tanggal 18. Tapi masih bingung juga karena kalau Lebarannya ikut tanggal 20 atau 21, otomatis arus penumpang juga menyesuaikan,” ujar Ambaryanti.
Menurutnya, penumpang tujuan Sumatera umumnya berangkat pada periode H- Lebaran, sedangkan arus balik biasanya mulai terlihat setelah hari raya. Sementara penumpang tujuan Jakarta cenderung berangkat lebih awal.
Ia menyebut, dibandingkan dua tahun sebelumnya, kondisi mudik tahun ini terbilang cukup ramai. Di pangkalan yang ia kelola sendiri terdapat sekitar 30 agen yang melayani penumpang tujuan Sumatera.
“Kalau hari biasa itu sepi, seperti paceklik. Jadi kami memang mengandalkan momen mudik seperti ini. Apalagi sambil puasa, capeknya terasa sekali, tapi ya dijalani,” katanya.
Menjelang Lebaran, harga tiket bus tujuan Sumatera juga mengalami penyesuaian secara bertahap. Kenaikan harga biasanya mulai diberlakukan oleh perusahaan otobus (PO) sejak awal Maret.
“Mulai sekitar tanggal 5 sampai 10 itu sudah ada kenaikan. Misalnya dari sekitar Rp490 ribu naik menjadi Rp550 ribu, lalu setelah Lebaran bisa sampai sekitar Rp640 ribu. Tapi tiap PO berbeda-beda, memang tujuan Sumatera cenderung lebih mahal,” jelasnya.
Meski permintaan meningkat, penambahan armada bus tidak terlalu signifikan. Menurut Ambaryanti, sebagian besar PO hanya menambah satu hingga dua unit bus tambahan.
“Tidak semua PO menambah armada. Ada yang menambah, tapi paling hanya satu sampai dua bus saja,” ujarnya.
Untuk pembelian tiket mendadak, Ambaryanti menyebut peluangnya sangat kecil jika kursi sudah penuh. Calon penumpang biasanya hanya bisa berharap ada pembatalan tiket dari penumpang lain.
“Kalau beli tiket hari itu ya untung-untungan. Kalau ada yang cancel bisa dapat, tapi kalau sudah penuh ya tidak ada,” katanya.
Salah satu calon penumpang tujuan Palembang, Levia, mengaku memilih mudik menggunakan bus karena merasa lebih nyaman. Ia baru pertama kali merantau di Yogyakarta dan baru kali ini pula pulang kampung menggunakan bus.
“Saya ke Palembang karena baru dapat cuti. Kebetulan ini baru satu tahun merantau di Jogja, jadi baru pertama kali mudik dari sini,” ujarnya.
Levia mengatakan sengaja memesan tiket sejak jauh hari agar tidak kehabisan. Menurutnya, harga tiket tidak mengalami perubahan karena ia sudah memesan lebih awal.
“Kalau pesan jauh-jauh hari harganya tetap sama. Saya diantar saudara yang ada di Jogja,” katanya.
Ia berencana pulang kampung selama dua minggu sebelum kembali bekerja di sebuah kafe di kawasan Al Azhar Yogyakarta.
Sementara itu, pemudik lain asal Serang, Banten, Hasuri, juga memanfaatkan moda transportasi bus untuk pulang ke kampung halaman. Ia mengaku baru pertama kali mudik dari Yogyakarta setelah dua bulan bekerja di proyek pembangunan jalan layang Tol Solo–Jogja.
“Saya kerja di proyek pembersihan alat berat, di bawah perusahaan Adhi Karya. Baru dua bulan di sini, jadi ini pertama kali mudik,” ujarnya.
Hasuri mengatakan membeli tiket sendiri dan akan pulang bersama empat orang kerabatnya. Ia mendapatkan jatah libur selama satu bulan sebelum kembali bekerja di Yogyakarta.
“Tiketnya masih stabil. Insyaallah nanti setelah libur satu bulan saya kembali ke sini lagi,” katanya.
